بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على اشرف الانبياء والمرسلين, وبعد
Dengan hadirnya
buku profil Pondok Pesantren Lubbul Labib yang disusun oleh temen-temen
pengurus PP. Lubbul Labib. Kami, selaku pengasuh sangat senang, gembira dan
bangga. Dan selanjutnya, semoga buku profil ini bisa memberikan manfaat kepada
semua keluarga besar. Pon. Pes. Lubbul
Labib, bagi santri maupun alumni. Sekian, atau pengantar dari kami,
terimakasih dan mohon maaf.
PENDAHULUAN
Pondok pesantren Lubbul Labib tergolong pesantren yang
cukup dinamis. Awalnya hanyalah bangunan sederhana yang terbuat dari bambu.
Kemudian seiring berjalannya waktu, pesantren bercirikhas al-qur’an ini telah
berhasil memperluas lokasinya yang sampai saat ini menjadi pusat belajar bagi
para santri untuk memperdalam ilmu agama yang relevan dengan perkembangan
zaman.
Suatu lembaga
pendidikan islam dengan menyeimbangkan antara kurikulum pendidikan agama islam
dan pengetahuan umum, dimana para santri/siswanya harus berdomisili di asrama
pondok pesantren yang diikat dengan peraturan-peraturan agama, diawasi serta
dibimbing oleh para kiyai dan tenaga pengajar yang lain.
Lokasinya juga sangat strategis hanya sekitar 50 m dari
jalan raya, tepatnya di jl. Kedungsari, RT 002/02, maron, sekolahan,
Pajuraangan, Gending, Probolinggo, jawa timur, 67272.
PP. Lubbul Labib yang didirikan oleh KH.Achmad
Qusyairi merupakan cikal bakal berakhirnya desa Kedungsari maron sebagai tempat
Pekerja Seks Komersial (PSK), kumpulan para pejudi dan para pekerja kotor
lainnya yang tidak sesuai dengan ajaran syariat islam. Sehingga sampai sekarang
pesantren ini masih tetap dirindukan masyarakat dan sangat kental dengan
tradisi salafnya.
BIOGRAFI KH.
ACHMAD QUSYAIRI
PENDIRI PONDOK PESANTREN LUBBUL LABIB
KH.Achmad Qusyairi adalah putra kepala desa sebaung,
Bromo Hadi Kusomo bin K. Amin bin Muhammad bin Gansiron yang berasal dari desa
Pajarakan kulon. Sedangkan, Desa sebaung merupakan tanah kelahirannya.
Kemudian, Pada tahun 1931 beliau merajut rumah tangga yang sangat harmonis
dengan Nyai. Djuwairiyah, putri dari H. Abdur Rohman kedung sari. Setelah itu,
pada tahun 1933 mertua tercinta membangunkan mesjid untuknya. Ini adalah salah
satu media yang sangat membantu beliau dalam menyebarkan syari’at islam.
Beliau termasuk salah satu tokoh masyarakat kharismatik,
sosok yang berintelektualitas tinggi, ulet, ahli dalam KHHP dan beliau juga
tenar dengan ilmu thobibnya. Ini, bisa dibuktikan dari riwayat pendidikannya
yang pernah menimba ilmu di HYS dan
mondok di sebaung yang saat itu diasuh oleh Kiyai Fathullah kemudian
melanjutkan ke siwalan panji pada masa Kiyai Faqih. Kemudian beliau melanjutkan
proses belajarnya ke sidogiri di masa akhir Kiyai Nawawi awal periode Kiyai
Abdul Jalil. Sewaktu masih bujang beliau juga pernah menyempatkan diri terbang
ke mekkah al-mukarromah selama 2 tahun untuk memperdalam ilmu agama.
Konon, beliau juga menguasai banyak bahasa. Seringkali
memberikan konstribusi nyata di tengah-tengah masyarakat pada umumnya, melalui
berbagai keahlian yang beliau miliki. Jadi, tak heran jika banyak masyarakat
berdatangan untuk mengaji dan minta pertolongan padanya menurut kebutuhan
masing-masing terutama masyarakat sekitarnya.
Tepatnya pada tahun 1934, KH. Achmad Qusyairi sudah
bertoriqoh (tarekat), yakni toriqoh (tarekat) muktabaroh At-tijani yang di
baiat oleh Kiyai Chozin Samsul Mu’in dan Ijtima’ dengan jumlah 5 orang yakni,
Kh. Chozin Samsul Mu’in pada waktu beliau masih di sebaung, Kh. Ahmad Qusyairi,
H. Abd. Rohman, H. Adro’I dan Bapak Mattamin di masjid yang dibangun oleh sang
mertua untuknya.
Awal kali beliau membangun pondok pesantren yaitu pada
tahun 1935 di desa Kedungsari wetan blok mesjid. kemudian pada tahun pada tahun
1947 beliau merantau ke Kedungsari kulon kampung lebbek dan merintis pesantren
baru di perkampungan ini yang saat ini dikenal dengan sebutan lubbul labib,
sekaligus diangkat menjadi muqoddam tarekat mutabaroh at-tijani oleh KH. Chozin
samsul Mu’in. Adapun yang telah di Baiat oleh KH. Achmad. Qusyairi antara lain:
KH. Mukti Brabe pada tahun 1949, KH.Ichsan pajarakan kulon ayah dari Hadratil
Muqoddam KH. Dhofiruddin pada tahun 1954, K. Anom pikatan pada tahun 1956, KH.
Ma’sum Bahrowi sebaung pada tahun 1958, dan KH.Achmad Taufiq Hidayatullah
Genggong pada tahun 1962.
Perjalanan KH. Achmad Qusyairi dalam membangun sebuah
pesantren memang tidak mudah. Semula, pesantren ini hanyalah terbuat dari gubuk
bambu. Pada tanggal 17 syawal 1948, beliau mendirikan asrama dari bambu,
sedangkan mesjid berhasil diwujudkan pada tahun 1949. Kemudian melengkapinya dengan lembaga
pendidikan pada tahun 1950 yakni mendirikan madrasah putra dan putri. Pada
tahun 1961 beliau juga mendirikan sekolah se EX kewedanan Gending bersama kiyai
Bahar Fathulloh. Alm dan KH. Muchlas Fathulloh. Alm. Berdirinya PP. Lubbul
Labib merupakan filosofi terkikisnya para pelacur dan bromo corah (maling) yang
awalnya berdomisili di kawasan ini. Sebagian dari mereka pindah ke tempat lain,
dan ada juga yang sadar ikut mengaji kepada beliau (bertaubat).
Sejak masa muda, KH. Achmad. Qusyairi memag sudah sangat
antusias dalam membela tanah air. Pasalnya, beliau pernah terlibat dalam
perjuangan membela penjajah sehingga beliau termasuk salah satu tokoh yang
menjadi incaran para penjajah. Pada tahun 1945 beliau ditunjuk sebagai pimpinan
sabilillah dan hizbullah yang di kirim ke garis depan di Surabaya. Di samping
itu, pribadi nasionalis itu juga ditularkan pada santri-santrinya. Bahkan,
santri beliau ada yang gugur di medang perang seperti hekal dkk.
Sejarah juga mencatat bahwa, dunia organisasipun
merupakan makanan sehari-hari baginya. Beliau sangat aktif di keorganisasian
masumi dan pernah menjadi pimpinan masumi pada tahun 1942 di kec.maron. Pernah
bergelut di suriyah cabang kraksaan pada tahun 1949 bersama kh. Zaini mun’im,
pendiri pp. Nurul jadid paiton-probolinggo. Sempat mengabdikan diri di
penerangan wilayah kecamatan maron pada tahun 1950 s/d tahun 1952. Pada tahun
ini pula beliau menduduki kursi pemerintahan sebagai anggta dprs kabupaten
probolinggo. Serta pada tahun 1963 beliau menjadi rois suriyah nu mwc maron
sampai wafat.
Pada 07 rajab 1383 (24 november 1963), tepatnya hari
minggu jam 6 pagi beliau menghirup nafas terakhirnya di kediaman al-mukarrom
kh. Mi’ad imaduddin, seorang menantu yang kemudian menjadi penerusnya dalam
jajaran pengasuh pesantren dan penerus toriqoh muktabaroh At-Tijaniyah.
SEJARAH BERDIRI DAN PERKEMBANGAN PP. LUBBUL LABIB
Jika hari-harimu selalu cerah tanpa gelap malam, maka
kamu takkan pernah mengerti akan seberkas cahaya yang begitu berarti. Mungkin
ini adalah salah satu kalimat yang cukup sesuai ketika dikorelasikan dengan
sejarah berdirinya PP. Lubbul Labib Kedung Sari Maron Probolinggo. Kesabaran
dan kecerdasan adalah hal paling urgen dalam pembangunan pesantren ini . Hal Ini
dibuktikan dari lika liku perjuangan pendiri PP. lubbul Labib yang begitu luar
biasa.
Pendiri PP. Lubbul Labib, Kh. Ahmad Qusyairi adalah
seorang pendatang. Pada tahun 1947 M beliau pindah dari desa kedung sari wetan
ke kedung sari maron sekaligus membabat desa ini menjadi pusat pembelajaran dan
pendalaman ilmu agama. Sebelum datangnya beliau sebetulnya ada juga seorang
kiyai bernama Kh Dahlan yang berasal dari Bawean, tapi beliau hijrah ke suatu
tempat. Akhirnya dakwah islamiyah dilanjutkan oleh KH Ahmad Qusyairi dengan
awal kali perjuangannya yaitu medirikan mushalla,yang saat ini berada di
kawasan asrama santri putra. PP. lubbul Labib.
Pada mulanya, lokasi pesantren ini merupakan areal
Pekerja Seks Komersial (PSK), kumpulan para pejudi dan para pekerja kotor
lainnya yang tidak sesuai dengan ajaran syariat islam. Upaya keras KH. Ahmad
Qusyairi akhirnya berbuah manis. Sejak datangnya beliau berdirilah pesantren
kecil yang kemudian sangat familiar dengan sebutan PP.Lubbul Labib. Sementara
itu, para PSK, pejudi dan mucikari tersebut mulai terkikis oleh syi’arislamiyah
yang dibawa oleh KH.Achmad Qusyairi.
Dalam mekanisme penamaan PP. Lubbul Labib, terpotret
bahwa nama “Lubbul Labib” memang sudah ada sejak awal didirikannnya PP. Lubbul
Labib. Nama ini memang dari Kh. Ahmad Qusyairi. Secara etimologi Lubbun artinya mengelola, sedangkan Labib berarti akal. Dalam artian, untuk
mencerdaskan akal. Jadi, orientasinya adalah untuk mencerdaskan para santri
sehingga mendapat ilmu yang barokah dan anfa’uhum
linnas.
Secara historis, titik awal berdirinya PP. Lubbul Labib
yang dirintis oleh KH. Ahmad Qusyairi, PP. Nurul Jadid yang didirikan oleh KH.
Zaini Mun’im , serta PP. Blado yang dibangun oleh KH. Hozin, sebetulnya tidak
jauh berbeda, tidak terpaut dalam waktu yang sangat jauh. Sehubungan dengan hal
tersebut, jika disorot dari riwayat pendidikanpun beliau sama-sama alumni
pesantren sidogiri.Namun, jika dilirik ulang tentunya dari masing-masing pondok
pesantren memang akan memiliki ciri khas dan keistimewaan tersendiri.
Lalu, pertanyaannya adalah atas inisiatif siapakanh PP.
Lubbul Labib ini didirikan? Jawabannya adalah: bahwa Pendirian PP. Lubbul Labib
memang atas perintah dari guru Kh. Ahmad Qusyairi dan tentunya ada kemauan dari
KH. Ahmad Qusyairi sendiri. Oleh karena itu, bukanlah hal yang tabu ketika
pesantren ini banyak didatangi santri beliau dari berbagai penjuru dan tetap
berdiri kokoh ditengah-tengah masyarakat hingga saat ini, sebab keinginan yang
memang bersinergi.
Salah satu karomah Kh. Ahmad Qusyairi adalah bisa
membengkokkan linggis. Ada anekdot unik terkait ini, ketika di cegah seseorang
di tengah jalan untuk dibunuh dengan alat tersebut.Ketika linggis itu hendak
dipukulkan padanya, beliau dengan sigap menangkapnya kemudian beliau
membengkokkan linggis itu dan beliau berdawuh kepada musuhnya “jika kamu bisa
meluruskan linggis ini maka kamu boleh membunuhku”.
Alhasil, orang tersebut tidak mampu meluruskan linggis
karena tertegun akan karomah yang dimilki oleh Kh.Ahmad qusyairi , akhirnya
orang tersebut menjadi santri beliau dan tidak lagi memusuhinya. Orang tersebut
kemudian sangat tunduk kepada beliau. Ini bisa dilihat dari keputusan si musuh
tadi untuk mengikuti tarekat yang sama dengan Kh. Ahmad qusyairi yaitu tarekat tijani. Menurut kabar yang
beredar beliau berhasil menaklukkan desa kedungsari maron menjadi sebuah
pesantren itupun melalui kepiyawaian beliau dan kecerdasannya.
Sayangnya, pesantren ini berada di bawah asuhan beliau
hanya dalam kurun waktu yang sangat singkat. Kurang lebih enam tahun Kh. Qusyairi
sebagai pendiri dan pengasuh di pesantren ini. Sebab, pada kisaran tahun 1963
beliau wafat kemudian diteruskan Kh. Mas Mi’ad, keponaan dari Kh. Hannan. Di
PP. Lubbul Labib Kh. Mas Mi’ad adalah
seorang menantu.
Sekalipun banyak kendala, tapi Kh. Mas Mi’ad selalu
ditemani oleh kakak iparnya yang kerap dikenal dengan sebutan Kh. Hisyam.
Sehingga ujian ataupun tantangan-tantangan yang beliau hadapi berhasil
dilewati. Sekalipun ketika ditelisik lebih dalam terkait silsilah, Kh.
Hisyamlah yang lebih pantas menduduki jajaran kepengasuhan karena beliau
merupakan putra asli dari Kh. Qusyairi. Sejatinya, Kh. Hisyam merupakan paman
dari Kh. Mas Mi’ad Tapi pasalnya, Kh. Ahmad qusyairi pernah berpesan kepada Kh.
Hisyam “cong, kamu di luar saja biar
yang meneruskan Mas Mi’ad”. Dengan titah itulah akhirnya Kh. Hisyam memulai
perjuangannya ditempat yang lain sedangkan pesantren Lubbul Labib dikembangkan
oleh Kh. Mas Mi’ad. Sementara itu, sepeninggal Kh. Mas Mi’ad kemudian jajaran
kepengasuhan diteruskan oleh putra dari beliau yaitu Kh. Najib imaduddin. Kh.
Mas Mi’ad menjadi pengasuh kurang lebih dari tahun 1963-2005. Kemudian
kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya hingga saat ini.
Setelah itu meski secara kasat mata, perkembangan
pesantren ini pada kisaran tahun 1975-1976 pernah menyemat istilah mati suri,
bahkan sempat sunyi akan suara santri.Akan tetapi, tahun 1978 pesantren ini
kembali bangkit dan mengalami perkembangan serta diramaikan lagi dengan suara
santri. Sejak saat itu PP. Lubbul Labib berevolusi dengan melewati banyak
cerita yang juga menuai banyak hikmah.
Syahdan, pada masa krisis atau mati suri itu, hanya ada
dua santri yang tetap mengaji di PP. Lubbul Labib yaitu Aminullah dan
Syamsuddin. Mereka adalah santri asal sentulan dan glegeh tapi saat ini 2 orang
santri tersebut telah meninggal dunia, sedangkan yang bernama syamsuddin baru
meninggal pada bulan puasa barusan (2018).
Awalnya PP. Lubbul Labib hanya dalam satu ruang lingkup
saja dan setelah itu karena jumlah santri yang semakin membludak dari tahun ke
tahun, kemudian muncullah ide untuk mengklasifikasi asrama santri ke beberapa
wilayah yang dikenal dengan istilah “banat” khusus santri putri yang terbagi
menjadi tiga banat, banat satu didirikan pada (29 januari 1982 / 4 Rabi’us
tsani 1402), banat II (01 Agustus1993), dan banat III (12 shofar 1414).
Sementara itu, istilah “banin”untuk santri putra. Jumlah seluruh santri saat ini sekitar 900
orang.
Adapun sistem pendidikan di PP. Lubbul Labib masih kental
dengan tradisi salafnya, sedangkan Al-Qur’an merupakan ciri khas utama
pesantren ini. Dengan modal ikhtiyar Kh. Qusyairi, pesantren ini sejak awal
dirintis sudah berhasil membangun Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan tetap exis
sampai sekarang.
Tak cukup sampai disitu, desakan masyarakat yang sangat
menginginkan adanya lembaga formal di PP.Lubbul Labib sebagai pusat
pembelajaran santri akhirnya memancing inisiatif pengasuh untuk membangun
lembaga formal Madrasah Tsanawiyah. Alhasil, di tahun 2003 inisiatif tersebut
mulai terwujud. Sehingga, pada tahun 2003 mulai dihiasi dengan pendidikan
formal khusus putri yaitu Madrasah Tsanawiyah (Mts) dan Madrasah Aliyah (MA).
Sementara itu, setelah tahun 2006 dibangunlah Sekolah Menengah Pertama (SMP)
dan Madrasah Aliyah (MA) untuk putra. PP. Lubbul Labib juga mulai merintis
perkuliahan yang bekerja sama dengan PP. Nuru Jadid.
Sehubungan dengan pengadaan lembaga formal, ada pesan
yang begitu ,berharga dari Kh. Mas Mi’ad kepada putranya, Kh. Najib Mi’ad
Imaduddin tat kala beliau menyampaikan rencana pengadaan lembaga formal kepada
abanya. Kh. Mas Mi’ad berdawuh“karena
sateyah osom kalambhih lengnghen pandhek ye karena be’en andhi’ lengnghen
lanjheng ye jhek kettok se lengnghen
lanjheng cong. Melle kaen pole aghebhey
lengnghen pandhek” (karena sekarang musim baju lengan pendek, sedangkan
kamu memiliki baju lengan panjang. Maka, jangan potong yang lengan panjang,
tapi belilah kain lagi dan buatlah baju pendek).
Mengutip dari pesan beliau terhadap putranya itu,
maka sangat jelas bahwa perkatan beliau sangat selaras dengan koridor-koridor
ajaran islam yang acap kali terngiang di telinga
"المحافظة
على القديم الصالح والأخذ على الجديد الأصلح".
Ironinya, meski telah
berevolusi, perkembangan lembaga formal berjalan dengan sangat mulus, ternyata
rantai masalah kala itu di lembaga pendidikan masih belum bisa dikatakan
benar-benar steril . Khususnya, kegiatan belajar mengajar di lembaga Madrasah
Diniyah seperti Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) diniyah
terkadang sudah terlihat kokoh tapi tak jarang juga roboh lagi. Dalam artian,
adanya lembaga diniyah (MTs dan MA) masih sangat rapuh. Aroma mati suri itu masih tercium di lembaga
diniyahnya. Mungkin sempat mengalami hal tersebut kurang lebih 3 kali dan tak
lagi mati mulai dari tahun 1982 hingga sekarang.

SEMOGA LUBBUL LABIB MAKIN SUKSES
BalasHapus